https://drive.google.com/file/d/15JUiNOEEYofrz130LQYndTkLiplvofw3/view?usp=drivesdk
Abstrack
Dakwah merupakan suatu hal yang sangat penting bagi umat Islam, selain menjadi kebutuhan bagi umat islam, dakwah juga merupakan salah satu cara untuk menyampaikan ajaran-ajaran syariat islam dan pesan pesan kebaikan kepada masyarakat. Munculnya pandemi covid-19 ini, pelaksanaan dakwah yang harusnya dilakukan secara tatap muka (langsung) antara da’I dan mad’u, sekarang harus dilakukan secara daring (online) dengan memanfaatkan media sosial yang tersedia. Dalam hal ini peranan media sangatlah penting dalam proses penyebaran pesan pesan dakwah kepada masyarakat, dengan memanfaatkan media pesan dakwah dapat disampaikan secara cepat kepada orang banyak. Oleh karena itu da’i dan juga mad’u penting untuk mengetahui, memahami dan menjalankan media sebagai sarana penyebaran pesan dakwah, para penelitian kali ini permasalahan yang akan diteliti adalah bagaimana dinamika dakwah di daerah samosir, sumatera utara yang mayoritas beragama nasrani. Dalam hal ini saya mencoba menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik field research (penelitian langsung dilapangan).
Hasil penelitian yang ditemukan bahwa dinamika dakwah di daerah samosir berjalan secara lambat, ada beberapa faktor hambatan dalam dakwah di daerah samosir, pertama yaitu rendahnya kesadaran berkeinginan untuk berubah dalam mempelajari ilmu keislaman, kurangnya berpartisipasi dalam kegiatan ibadah dimasjid, kurangnya pemanfaatan platform media sosial dalam menyebarkan dakwah dan kefanatikan dalam budaya . Masyarakat lebih mementingkan pesta adat ataupun bentuk kegiatan budaya lainnya sehingga mereka lupa dan tidak peduli dengan ibadah dan tidak peduli terhadap kegiatan yang dilakukan para da’i. Rendahnya antusias masyarakat didaerah samosir dalam mengikuti kegiatan dakwah perlu dicari solusi yang tepat. Solusi yang diberikan agar dinamika dakwah didaerah samosir tidak berjalan dengan lambat adalah dengan cara da’i dituntut untuk bekerja keras dalam mengubah pola pikir masyarakat dan menyadarkan betapa pentingnya mempelajari ilmu keislaman serta mengajak masyarakat untuk datang beribadah kemasjid dan berpartisipasi dalam kegiatan yang dilakukan da’i, pemaksimalan platform media sosial perlu juga dilakukan oleh da’i agar masyarakat secara luas dapat mengikuti jalannya kegiatan, apalagi ditengah pandemi saat ini anjuran untuk tetap dirumah membuat berkurangnya kegiatan masyarakat diluar rumah, da’i dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman dalam menjalankan aktivitas dakwahnya yaitu dengan pemanfaatan media dalam sarana penyebaran dakwah. Sehingga jika masyarakat muslim didaerah samosir sudah memiliki kesadaran dalam mempelajari ilmu keislaman dan sudah memiliki jiwa yang religius maka perkembangan dakwah didaerah samosir akan bergerak maju.
Kata Kunci : Dinamika Dakwah, Perspektif, Tokoh Muslim.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dinamika dalam berdakwah terus mengalami pergerakan dari waktu kewaktu. Dinamika diartikan gerak atau semangat. Kekuatan yang dimiliki sekumpulan orang didalam masyarakat yang dapat menimbulkan perubahan tata hidup masyarakat yang bersangkutan. Dalam perkembangannya dakwah harus menyesuaikan dengan kondisi dan permasalahan yang terjadi dimasyarakat, dakwah juga dapat dilakukan dengan langsung terjun meilhar keadaan masyarakat yang sebenar-benarnya dan mencari metode baru yang lebih menarikdan tepat untuk dilakukan dalam kegiatan dakwah. Hal ini juga harus disesuaikan dengan perkembangan zaman dan meilihat media apa yang saat ini banyak digunakan dalam menyampaikan dakwah.
Dakwah pada daerah minoritas selain menjadi peluang juga menghadapi berbagai tantangan yang sangat berat, terutama akibat dari perbedaan budaya masyarakat (adat-istiadat) dan ajaran syariat islam. Oleh sebab itu, kajian terhadap pengembangan dakwah dan evaluasi secara terus menerus terhadap gerakan dakwah harus terus dilakukan secara insentif seiring perkembangan zaman dari waktu kewaktu. Pemikiit dan organisasi dakwah dituntut untuk merevisi konsep dakwah, sehingga mampu menawarkan solusi terhadap problematika masyarakat modern saat ini. Gerakan dakwah harus tetap dilakuakn oleh para da’i khususnya didaerah minoritas demi mengembangkan ajaran islam, perhatian lebih harus ditujukan pada daerah minoritas agar tidak terjadi gerakan pemurtadan dan antipati terhadap ajaran agama islam.
Pada hakikatnya, dakwah tidak sekedar menyampaikan ajaran-ajaran islam secara teoritis, tetapi da’i juga harus menyesuaikan dengan kondisi yang dihadapi oleh masyarakat saat ini agar tidak terpuruk dalam kemaksiatan. Dakwah sendiri merupakan transformasi nilai-nilai islam yang bertumpu pada amar ma’ruf dan nahi munkar yang diaktualisasikan dalam tataran praktis artinya diwujudkan dalam gerakan riil (nyata) yang langsung bersentuhan dengan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat baik dalam konteks politik, sosial, budaya maupun ekonomi sehingga terwujudlah Islam sebagai agama yang Rahmatan Lil’alamin.
Kabupaten Samosir adalah salah satu daerah minoritas umat islam yang ada di Provinsi Sumatera Utara, daerah ini sangat kental dengan budaya dan adat istiadat sehingga agama menjadi nomor dua setelah adat. Beberapa da’i sudah dikiri kedaerah samosir oleh organisasi Bina Muslim Minoritas Sumatera Utara (BMM SU) yang dibina oleh ustadz Daka Juho Simanjuntak. Didaerah ini kita tidak heran lagi jika melihat masyarakat mendahului kepentingan adat daripada syariat agama islam, tentu hal ini bertentangan dengan ajaran agama islam. Belum lagi para da’i berhadapan dengan para misionaris yang sengaja dihadirkan untuk memurtadkan umat islam melalui hubungan kerabat atau kekeluargaan, kurangnya wawasan tentang pengetahuan sehingga mudah terhasut dan lemahnya perekonomian umat islam didaerah kabupaten samosir.
Peran da’i sangat penting dalam membina umat islam minoritas di daerah ini agar tidak terjadi pemurtadan yang semakin meluas pada umat islam, apalagi pada saat pandemi ini, para da’i dituntut untuk lebih gencar dalam melakukan kegiatan dakwah, baik langsung terjun kelapangan melalui aktivitas-aktivits kegiatan keislaman ataupun memanfaatkan platform media untuk menjaga umat muslim yang jaraknya jauh.. Maka berdakwah kepada masyarakat minoritas memiliki banyak tantangan dan rintangan yang harus dihadapi oleh para da’i.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latarbelakang diatas maka saya merumuskan pokok permasalahan penelitian
1. Bagaimana dinamika dakwah di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara?
2. Bagaimana pandangan tokoh muslim tentang dinamika dakwah didaerah minoritas khususnya didaerah Kabupaten Samosir?
3. Bagaimana hambatan serta solusi dinamika dakwah di Kabupaten Samosir?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui dinamika dakwah di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara
2. Untuk mengetahui pandangan tokoh muslim tentang dinamika dakwah didaerah moniritas khususnya didaerah Kabupaten Samosir
3. Untuk mengetahui hambatan serta solusi dinamika dakwah di Kabupaten Samosir
D. Batasan Istilah
1. Dinamika Dakwah
Dinamika dakwah diartikan sebagai dakwah yang tidak kaku, tetapi mengalami berbagai perubahan dan perkembangan sesuai dengan dinamika yang terjadi dalam masyarakat. Dakwah menurut M.S. Nasaruddin Latif, yaitu setiap usaha atau aktivitas dengan lisan atau tulisan yang bersifat menyeru, mengajak, memanggil manusia lainnya untuk beriman dan mematuhi Allah SWT sesuai dengan garis akidah dan syari’ah serta akhlak
Islamiyah.
2. Perspektif
Menurut Martono, perspektif adalah cara pandang kita terhadap suatu masalah yang sedang terjadi, atau suatu sudut pandang tertentu yang digunakan dalam melihat suatu fenomena.
3. Tokoh Muslim
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI), tokoh adalah seseorang yang terkenal baik dibidang politik, ekonomi, budaya, agama, dan lain-lain . Adapun tokoh muslim disini adalah orang yang terkemuka dan memiliki kemampuan yang kompeten dibidang ilmu pengetahuan agama islam. Serta memiliki ide dan gagasan untuk terus menciptakan perubahan positif dibidang agama islam.
BAB II
LANDASAN TEORITIS
A. Pengertian Dinamika Dakwah
Dinamika adalah suatu bentuk perubahan, baik itu yang sifatnya besar-besaran atau kecil-kecilan, maupun secara cepat atau lambat, yang sifatnya nyata dan berhubungan dengan suatu kondisi keadaan. Dinamika dapat diartikan sebagai sesuatu yang selalu bergerak. Istilah ini digunakan untuk mendeskripsikan suatu benda atau kondisi yang cenderung berubah-ubah atau tidak konstan. Dinamika dakwah itu sendiri dapat diartikan sebagai dakwah yang tidak kaku, artinya terus bergerak dan mengalami perkembangan ataupun kemajuan dari waktu ke waktu disebuah kelompok masyarakat.
Masyarakat dalam aspek-aspek dinamikanya terdiri atas individu-individu dan kelompok-kelompok dalam interaksi. Proses-proses ini merupakan fase dari interaksi itu. Seperti telah kita maklumi seseorang itu tidak bisa sama dari hidup berkelompok dan kelompok-kelompok ini coraknya beraneka ragam, dari yang paling sederhana ialah dalam suatu keluarga atau dalam bentuk kelompok tetangga sampai pada gabungan-gabungan masyarakat yang kompleks.
Demikian juga halnya bila individu menghadapi suatu kelompok. Ia ditelaah dalam sekejap oleh kelompok dan ia membentuk suatu impressi dari keanggotaan kolektif. Hal ini sudah lazim dialami oleh para pemimpin besar/kecil pada waktu berpidato, berceramah, bertukar pikiran, berdiskusi, suatu interaksi timbul antara dua kelompok. Dan dapat saling berlatih diri untuk dengan sekejap mengadakan analisa, bentuk give and take yang tumbuh, agar dapat mereka membaikgunakan atau merubahnya untuk kepentingan masing-masing.
B. Pengertian Dakwah
Secara bahasa (etimologi) dakwah berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata (da’a), (yad’uw), dan (da’watan). Kata tersebut mempunyai makna menyeru, mengajak, memanggil ataupun melayani. Selain itu, juga bermakna mengundang, menuntun dan menghasung. Maka arti dakwah secara istilah (terminologi) adalah mengajak manusia untuk menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari perbuatan mungkar.
Menurut Syekh Ali Mahfuzh, dakwah adalah mendorong (memotivasi) manusia untuk melakukan kebaikan dan mengikuti petunjuk dan menyuruh mereka berbuat makruf dan mencegah dari perbuatan mungkar agar mereka memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat. Menurut Muhammad al-khaydar Husayn dalam kitabnya ad-Da’wat ila al-ishlah mengatakan, dakwah adalah mengajak kepada kebaikan dan petunjuk, serta menyuruh kepada kebajikan (ma’ruf) dan melarang kepada kemungkaran agar mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.
1. Pesan Dakwah dalam Komunikasi Dakwah
Pesan yang dimaksud dalam komunikasi dakwah adalah yang disampaikan da’i kepada mad’u. Dalam istilah komunikasi pesan juga disebut message, content, atau informasi. Berdasarkan cara penyampaiannya, pesan dakwah dapat disampaikan lewat tatap muka atau dengan menggunakan sarana media.
Komunikasi dakwah terdiri atas isi pesan, akan tetapi lambang yang digunakan bisa bermacam-macam. Sementara itu, lambang yang biasa digunakan dalam komunikasi dakwah adalah bahasa, gambar, visual, dan sebagainya, Dalam kehidupan sehari-hari, pesan komunikasi dakwah yang disampaikan kepada mad’u dengan menggunakan gabungan/kolaborasi lambang, seperti pesan komunikasi melalui, retorika, surat kabar, film, atau televisi. Karena bagaimanapun juga komunikasi dakwah adalah komunikasi yang menggambarkan bagaimana seorang komunikator dakwah menyampaikan dakwah lewat bahasa atau simbol-simbol tertentu kepada mad’u yang menggunakan media.
Lambang yang banyak digunakan dalam komunikasi dakwah ialah bahasa karena hanya bahasa yang dapat mengungkapkan pikiran dan perasaan, fakta dan opini, hal yang kongkret dan abstrak, pengalaman yang sudah lalu dan kegiatan yang akan datang, dan sebagainya. Oleh karena itu, lambang berupa bahasa dalam komunikasi dakwah dapat memegang peranan penting. Tanpa menggunakan bahasa, hasil pemikiran yang bagaimanapun baiknya tidak akan dapat dikomunikasikan kepada orang lain secara tepat.
Dalam melancarkan komunikasi dakwah, seorang da’i harus berupaya menghindar pengucapan kata-kata yang konotatif (dipengaruhi oleh emosi seseorang). Jika terpaksa harus kita katakan karena tidak ada perkataan lain yang tepat, maka kata yang diduga mengandung pengertian konotatif itu perlu diberi penjelasan makna yang dimaksudkan. Karena jika dibiarkan akan mengandung makna interpretatif yang salah.
Isi pesan dakwah dalam komunikasi dakwah adalah ajaran Islam itu sendiri, sebab semua ajaran Islam dapat dijadikan pesan dakwah. Dalam Ilmu dakwah secara umum pesan dakwah dapat diklasifikasikan menjadi masalah pokok yaitu:
a. Pesan Akidah
Iman kepada Allah SWT. Iman kepada malaikat, iman kepada kitab-kitab, iman kepada Rasul-rasul, iman kepada hari kiamat, iman kepada Qadha dan Qadhar.
b. Pesan Syariah
Ibadah thaharah, shalat, zakat, puasa, dan haji. Muamalah, seperti hukum perdata meliputi: Hukum niaga, hukum nikah, dan hukum waris. Hukum publik meliputi: Hukum pidana, hukum negara, hukum perang dan damai.
c. Pesan Akhlak
Akhlak terhadap Allah SWT, akhlak terhadap makhluk yang meliputi: Akhlak terhadap manusia, yaitu diri sendiri, tetangga, dan masyarakat lainnya. Akhlak terhadap bukan manusia, yaitu hewan, tumbuhan, dan sebagainya.
C. Hambatan Komunikasi Dakwah
Kegagalan dalam berkomunikasi sering menimbulkan kesalahpahaman, kerugian, dan bahkan malapetaka. Resiko tersebut tidak hanya pada tingkat individu, tetapi juga pada tingkat lembaga, komunitas, dan bahkan negara. Dengan berkomunikasi pula manusia mengekspresikan dirinya, membentuk jaringan sosial, dan mengembangkan kepribadiannya. Para pakar psikologi dan komunikasi sepakat menyatakan bahwa kegagalan komunikasi berakibat fatal, baik secara individual maupun sosial. Secara individual, kegagalan komunikasi menimbulkan frustasi, aliensi, dan penyakit-penyakit jiwa lainnya. Secara sosial, kegagalan komunikasi menghambat saling pengertian, kerja sama, toleransi, dan merintangi pelaksanaan norma-norma sosial.
Terlebih dalam aktivitas dakwah, orang harus memahami ilmu komunikasi dan hambatan-hambatan apa yang akan menjadi rintangan dalam berkomunikasi. Berkomunikasi dengan orang lain tidaklah semudah apa yang dibayangkan, terlebih untuk mengubah pandangan, sikap, dan perilaku orang lain terkait dengan dakwah yang disampaikan. Untuk dapat mengkomunikasikan materi dakwah yang baik tentu harus pula mengetahui siapa yang menjadi sasaran dakwah. Dengan demikian mereka akan mampu memprediksi tentang keefektifan terhadap dakwah yang akan dilakukannya.
Sebagaimana hambatan-hambatan dalam berkomunikasi, hambatan-hambatan dalam komunikasi dakwah itu meliputi:
1. Noice factor
Hambatan yang berupa suara, baik disengaja ataupun tidak ketika dakwah berlangsung. Seseorang yang sedang ceramah, kemudian lewat pasukan drum band atau mungkin lewat pesawat terbang. Atau ketika mendengarkan atau menyaksikan sajian pengajian di televisi dan tiba-tiba ada pesawat CB masuk. Diakui atau tidak hal ini sangat mengganggu keberhasilan tidaknya proses komunikasi dakwah.
2. Semantic factor
Hambatan ini berupa pemakaian kosakata yang tidak dipahami oleh mad’u. Disinilah pentingnya seorang da’i dalam memahami frame of referensi dan objek dakwah. Karunia terbesar yang diberikan Allah SWT kepada manusia dan yang membedakan dengan hewan adalah kemampuan untuk mempelajari bahasa. Bahasa merupakan sarana utama manusia dalam berpikir dan memperoleh ilmu pengetahuan. Bahasa dalam kedudukannya sebagai simbol-simbol konsep telah memungkinkan manusia untuk membahas semua konsepsi dalam pemikiran dengan cara simbolis dan dengan demikian membantunya untuk merealisasikan kemajuan ilmu pengetahuan yang ada.
3. Interest
Dakwah harus mampu menyodorkan message yang mampu membangkitkan interest mad’u yang berbeda. Sebab pada dasarnya manusia memiliki interest yang berbeda. Bagaimana keahlian seorang da’i mengepak materi dakwah sehingga mad’u tertarik untuk menyimaknya. Kalaupun pada awalnya saja mad’u sudah tidak interest, niscaya feed back dalam dakwah akan bersifat negatif.
4. Motivasi
Motivasi ini terlihat dari sudut mad’u, bukan dari da’i artinya motivasi dapat dikatakan sebagai penghambat dalam komunikasi dakwah, jika motivasi mad’u mendatangi aktivitas dakwah bersifat negatif. Motivasi itu sendiri sesungguhnya bukan merupakan hambatan, akan tetapi apabila isi komunikasi bertentangan dengan motivasi komunikan maka komunikasi akan mengalami hambatan.
5. Prasangka
Prasangka adalah hambatan yang paling berat terhadap kegiatan komunikasi dakwah. Dalam prasangka emosi memaksa seseorang untuk menarik kesimpulan atas dasar prasangka tanpa menggunakan logika.
D. Ruang Lingkup Dakwah
Dari waktu ke waktu pengertian dan ruang lingkup serta pemikiran dakwah terus menerus mengalami perkembangan yang sangat pesat. Dulu dakwah hanya diartikan secara praktis, yaitu sama dengan tabligh dan dipahami sebagai penyampaian ajaran Islam melalui lisan semata. Namun kini perkembangan pemikiran dakwah Islam mengalami kemajuan yang amat pesat. Dalam terminologi modren dakwah dipahami sebagai upaya rekonstruksi masyarakat sesuai dengan citacita sosial Islam. Semua bidang kehidupan dapat dijadikan arena dakwah dan seluruh kegiatan hidup manusia bisa dan harus digunakan sebagai sarana dan alat dakwah.
Tuntutan Alquran agar orang beriman, beragama secara kaffah, yaitu tuntutan menjadikan semua bidang kehidupan untuk pengabdian dan penyerahan diri secara total kepada Allah SWT. Seperti disebutkan oleh Amien Rais bahwa kegiatan politik, juga kegiatan ekonomi, usaha-usaha sosial, gerakan-gerakan budaya, kegiatankegiatan ilmu dan teknologi, kreasi seni, kodifikasi hukum dan lain sebagainya, bagi seorang muslim adalah menjadi alat dakwah. Pada setiap bidang itu, harus dikembangkan dan ditegakkan serta dikelola sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.
1. Dakwah Bil Lisan
Dakwah secara lisan sesungguhnya telah memiliki usia yang sangat tua, yaitu setua usia manusia. Ketika Nabi Adam mengajak anaknya Qabil dan Habil untuk mentaati perintah Allah SWT, maka Nabi Adam telah berdakwah secara lisan. Demikian juga Nabi dan Rasul yang lain telah melakukan hal yang sama, disamping berdakwah melalui tulisan dan keteladanan.
Nabi Muhammad SAW pertama kali mengajak keluarga dan para sahabatnya dengan dakwah bil lisan. Misalnya melalui kata-kata, nasihat, dan himbauan bentuknya sederhana tanpa memerlukan biaya. Sekalipun bentuknya sederhana tidaklah mengurangi urgensinya karena lewat dakwah ini Rasulullah SAW berhasil merubah masyarakat jahiliyah dari budaya syirik menuju dunia tauhid, dari tidak beriman menjadi masyarakat yang beriman dan Islami. Belakangan ini dakwah bil lisan semakin berkembang sejalan dengan dinamika masyarakat dan bentuknya tidak lagi sederhana tetapi dikemas secara baik. Samsul Munir Amin mengatakan bahwa bentuk dakwah bil lisan yakni ceramah agama, khutbah, tabligh akbar, diskusi dan nasihat.
Dakwah bil lisan yang hampir sinonim dengan tabligh secara umum dibagi kepada dua macam. Pertama, dakwah secara langsung atau tanpa media, yaitu antara da’i dengan mad’uw berhadapan wajah (face to face). Dalam ilmu komunikasi hal semacam ini disebut komunikasi primer. Kedua, dakwah yang menggunakan media (channel), yaitu antara da’i dan mad’uw tidak saling berhadapan dan model komunikasi seperti ini disebut dengan komunikasi sekunder. Dakwah melalui media seperti, televisi, radio, film, dan media lainnya. Dakwah tanpa media (face to face), juga dibedakan menjadi dua macam, yaitu dakwah yang ditujukan kepada kelompok (jama’ah) dan kepada person mad’uw atau yang dikenal dengan dakwah fardiyah. Kemudian implementasi dari bentuk dakwah bil lisan, ialah aktivitas atau kegiatan dakwah yang dilaksanakan dengan lebih banyak menggunakan bahasa secara lisan (tidak tertulis). Secara umum, bentuk dakwah bil lisan dapat dilaksanakan dalam bentuk-bentuk seperti ceramah, tanya jawab ataupun diskusi.
a. Keunggulan dan Kelemahan Dakwah Bil Lisan
Bentuk dakwah bil lisan, memiliki keunggulan dan kelemahannya, yaitu:
1. Dakwah dapat dilaksanakan secara formal dan informal.
2. Pesan dakwah cepat sampai kepada jamaah karena sifatnya secara langsung.
4. Bentuknya sederhana, mudah dilaksanakan dan tidak memerlukan biaya banyak.
5. Melalui lisan saja dapat dilaksanakan tanpa menggunakan pengeras suara atau alat bantu kecuali ramainya jamaah.
Kelemahannya, yaitu dakwah tidak efektif karena pesan dakwah yang disampaikan tidak banyak diserap, diingat oleh jamaah dan tidak pula bisa dibaca secara berulang-ulang . Karena itu, usai ceramah agama maka pada umumnya habis pula yang diingat oleh jamaah.
b. Metode Ceramah
Ceramah adalah metode yang dilakukan dengan maksud untuk menyampaikan keterangan, petunjuk, pengertian, dan penjelasan tentang sesuatu kepada pendengar dengan menggunakan lisan. Bentuk ceramah merupakan suatu teknik dakwah yang banyak diwarnai oleh ciri-ciri karakteristik bicara oleh seorang da’i pada suatu aktivitas dakwah. Bentuk dakwah ini harus diimbangi dengan kepandaian khusus tentang retorika, diskusi, dan faktor-faktor lain yang membuat pendengar merasa simpatik dengan ceramahnya. Bentuk ceramah ini, sebagai metode dakwah bil lisan, dapat berkembang menjadi metode-metode yang lain, seperti metode diskusi dan tanya jawab. Ceramah dapat pula bersifat propaganda, kampanye, berpidato, khotbah, sambutan, dan juga dengan cara memberikan pengajaran. Agar ceramah berhasil dengan baik, maka disarankan untuk:
1. Menguasai bahasa yang akan disampaikan sebaik-baiknya, dan hubungkanlah dengan situasi kehidupan sehari-hari yang dihadapi oleh mad’u.
2. Bahasa harus disesuaikan dengan taraf kejiwaan, juga ligkungan sosial dan budaya para pendengarnya.
3. Suara dan bahasa diatur dengan sebaik-baiknya, meliputi ucapan, tempo, intonasi, melodi, ritme, dan dinamika dalam berbahasa.
4. Sikap dan cara berdiri, duduk , bicara, dan penampilan yang simpatik.
5. Adakan variasi dengan dialog dan tanya jawab dan humor seperlunya.
Metode ceramah digunakan sebagai metode dakwah efektif dan efisien bilamana dalam kondisi berikut:
1. Objek atau sasaran dakwah berjumlah banyak.
2. Penceramah (mubaligh) orang yang ahli berceramah dan berwibawa.
3. Sebagai syarat dan rukun suatu ibadah, seperti pada khutbah Jumat dan khutbah shalat ‘Id.
4. Tidak ada metode lain yang dianggap paling sesuai digunakan, seperti dalam walimatul ‘ursy, dan kata-kata takziah.
Sebagai satu metode dakwah, metode ceramah memiliki beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan metode ceramah memiliki beberapa keistimewaan atau kelebihan, antara lain:
1. Dalam waktu relatif singkat dapat disampaikan bahan (materi dakwah) sebanyak-banyaknya.
2. Memungkinkan da’I menggunakan pengalamannya, keistimewaannya dan kebijaksanaannya sehingga mad’u mudah tertarik dan menerima pesan yang disampaikan.
3. Da’i lebih mudah menguasai seluruh mad’u.
4. Bila disampaikan dengan baik, dapat menstimulasi audiensi untuk mempelajari materi/isi kandungan nilai ajaran Islam yang telah diceramahkan.
5. Biasanya dapat meningkatkan derajat atau status dan popularitas juru dakwah.
6. Metode ceramah lebih fleksibel, artinya mudah disesuaikan dengan situasi dan kondisi serta waktu yang tersedia, jika waktu terbatas bahan ceramah dapat dipersingkat, sebaliknya jika waktunya memungkinkan dapat disampaikan bahan sebanyak-banyaknya dan lebih mendalam.
Kekurangan metode ceramah, ceramah sebagai metode dakwah memiliki beberapa kelemahan (kekurangan), antara lain:
1. Juru dakwah sukar untuk mengetahui pemahaman mad’u terhadap materi yang telah disampaikan.
2. Metode ceramah hanyalah bersifat komunikasi satu arah (one way communication channel). Maksudnya ialah yang efektif hanya juru dakwahnya, sedangkan mad’u pasif belaka (tidak paham, tidak setuju) tidak ada waktu untuk bertanya dan mengkrtiknya.
3. Sukar menjajaki pola berpikir pendengar dan pusat perhatiannya.
4. Dalam diri mad’u besar kemungkinan akan terbentuk konsep-konsep yang lain daripada kata-kata yang dimaksudkan oleh da’i. Kesukaran utama bagi mad’u terletak dalam memahami dan menafsirkan istilah-istilah yang digunakan da’i.
5. Penceramah (da’i) cenderung bersifat otoriter.
6. Mad’u sukar mengkonsentrasikan perhatiannya terhadap keterangan da’i, terutama jika ceramah tersebut disampaikan pada kondisi yang kurang menyenagkan pendengar (mad’u).
Seorang penceramah agar ceramahnya baik, mudah dipahami mad’u, menyenagkan bila didengar, hendaknya memiliki keterampilan (skill) yang memenuhi criteria ceramah yang baik, antara lain:
1. Keterampilan membka ceramah (set induction skill).
2. Keterampilan menerangkan materi yang diceramahkan (explaning skill).
3. Keterampilan variasi perangsang mad’u (stimulus variation skill).
4. Keterampilan menutup ceramah (closure skill).
5. Menyiapkan rencana ceramah (persiapan).
E. Teori Tujuan Komunikasi (Communication Goal Theories)
Tujuan (goal) adalah sesuatu hasil atau keadaan yang diinginkan untuk dicapai atau dipertahankan. Keinginan menjadi tujuan interaksi apabila dibutuhkan komunikasi dan koordinasi dengan orang lain untuk mencapai tujuan. Kebanyakan komunikasi kita dengan orang lain adalah komunikasi yang memuat tujuan. Kita bertujuan untuk membentuk relasi, meyakinkan orang lain, atau bekerja demi mencapai tujuan. Tujuan adalah fenomena kognitif, hanya memikirkan suatu tujuan adalah tidak cukup untuk mencapai tujuan itu. Pencapaian tujuan membutuhkan beberapa tindakan yang dirancang untuk mendapatkan tujuan. Perencanaan terdiri dari membuat satu atau lebih model mental yang berisi detail tentang cara mencapai tujuan melalui interaksi. Produk dari tujuan dan rencana adalah perilaku nyata dalam rangka mencapai tujuan. Tujuan memengaruhi semua level perilaku mulai dari konten dan struktur pesan verbal sampai perilaku nonverbal. Entri ini membahas penjelasan tujuan dan rencana secara teoritis, dan cara proses kognitif ini memberi dasar untuk komunikasi.
Dalam pembentukan tujuan, teori perilaku yang didasari tujuan menempatkan aspek tujuan didalam urutan tujuan, rencana, dan tindakan (goal-plans-action-GPA) yang diawali dengan aktivasi konsep yang berkaitan tujuan didalam memori. Teori penyatuan tindakan green dan model aturan kognitif Wilson mengasumsikan bahwa informasi yang relevan dengan tujuan, termasuk pengetahuan tentang tujuan dan elemen situasional yang relevan untuk setiap tujuan, disimpan sebagai node didalam jaringan asosiatif di memori jangka panjang. Jaringan informasi yang relevan dengan tujuan ini mencakup konsep-konsep seperti orang, sifat, kualitas relasi, dan hasil yang diinginkan.
Teori tujuan komunikasi (Communication Goal Theories) menempatkan posisi sebagai hakikat tujuan komunikasi dakwah untuk mengajak ataupun menyeru umat Islam kepada kebaikan. Teori tujuan komunikasi selaras dengan tujuan dakwah yang sesungguhnya, yaitu menjadikan masyarakat sebagai yang dikonsepkan Alquran khairu ummah. Cara mencapai tujuan itu melalui interaksi dan interaksi bukan hanya sekedar mencapai tujuan, namun bisa membentuk relasi serta tujuan tersebut bisa memengaruhi semua level perilaku. Maka dakwah juga memiliki konsep yang demikian.
BAB III
PEMBAHASAN
1. Dinamika Dakwah Di Kabupaten Samosir
Berdakwah didaerah mayoritas umat muslim dengan daerah minoritas umat muslim tentu sangat berbeda, mulai dari penyesuaian diri dengan masyarakat, pembinaan kepada masyarakat, serta pengawasan yang dilakukan da’i kepada masyarakat. Berdakwah didaerah minoritas umat muslim tentu memiliki tantangan yang berbeda dari daerah yang mayoritas umat muslim. Da’i harus memiliki strategi yang efektif dalam menjalankan dakwahnya agar daerah yang minoritas itu dapat berkembang ajaran agama Islamnya.
Dinamika dakwah yang terjadi di kabupaten Samosir bergerak dengan begitu lambat, karena pelaku dakwah atau da’i itu juga sebelumnya harus mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat muslim maupun masyarakat non muslim dan budaya. Kemudian para da’i juga selanjutnya mengalami hambatan dalam proses pembinaan kepada masyarakat Muslim di Kabupaten Samosir. Kenyataan dilapangan bahwa da’i mengalami kesulitan sehingga terhambat dalam proses pembinaan dan pengajaran kepada masyarakat muslim di Kabupaten Samosir. Disisi lain da’i juga harus melakukan pengawasan ketat terhadap masyarakat muslim itu sendiri agar tidak keluar dari jalur agama Islam, karena sangat rentan apabila mereka mengalami kefanatikan dalam berbudaya, perempuan yang sudah berumur belum menikah dan ada beberapa anak yang ditinggal oleh kedua orang tuanya serta tidak jelas silsilah keluarganya maka dalam hal ini mereka akan akan keluar dari keyakinan agama Islam (murtad), dikarenakan bujukan dari orang-orang non muslim yang simpati kepada mereka.
2. Pandangan Tokoh Muslim Tentang Dinamika Dakwah Di Kabupaten Samosir
Pandangan tokoh muslim melihat bahwa pergerakan dakwah di Kabupaten Samosir bergerak secara lambat, terlebih lagi ketika budayabudaya yang diluar ajaran agama Islam atau tidak sesuai dengan syari’at Islam, telah menguasai sebagaian besar pemahaman masyarakat muslim itu sendiri, kemudian mengubah pola pikir masyarakat muslim sehingga jika datangnya sebuah pemahaman-pemahaman ajaran agama Islam seiring bersamaan juga hadirnya pemahaman budaya, maka akan sangat sulit untuk merubah keadaan masyarakat tersebut. Meskipun tidak semua masyarakat muslim sama dalam hal tersebut, namun ada beberapa masyarakat yang dapat menerima pemahaman ajaran agama Islam walaupun disisi lain bertolak belakang dengan budaya.
Dahulu sebelum hadirnya da’i di Kabupaten Samosir, beberapa keluarga dari masyarakat setempat sadar tentang kewajiban-kewajiban yang harus mereka laksanakan sebagai insan setiap muslim, hal ini diperoleh berdasarkan pendidikan yang mereka dapatkan dari orang-orang tua terdahulu. Hal tersebut tetap terlaksanakan secara konsisten karena kesadaran ataupun kebutuhan masyarakat muslim terhadap ajaran agama Islam itu sendiri. Setelah hadirnya para da’i yang ditempatkan di masing-masing masjid di Kabupaten Samosir, juga tidak terlalu terlihat perbedaan antara sebelum hadirnya da’i dengan sesudah hadirnya da’i. Artinya arus dinamika dakwah yang dibawa oleh da’i berjalan secara lambat dan perubahan-perubahan yang dapat dilihat juga tidak terlalu besar dalam perkembangan Islam di Kabupaten Samosir.
Dinamika dakwah di Kabupaten Samosir mengarah kepada anak-anak yang senantiasa tetap konsisten terhadap program-program yang buat oleh da’i dan mau beribadah ke masjid meskipun tidak semua anak di Kabupaten Samosir. Anak-anak juga sebagian diarahkan oleh kedua orang tua mereka untuk senantiasa mengaji di masjid dan mengikuti program-program yang dibuat oleh da’i. Mereka seakan menjadi penopang bagi orang tua mereka karena kesibukan orang tua mereka yang sebagian besar pekerjaannya adalah petani.
Anak-anak dinilai berperan aktif dalam membuat dinamika dakwah di Kabupaten Samosir, terbukti mereka mengikuti program-program da’i di masjid serta dapat terlihat ketika banyak anak-anak di masing-masing desa di Kabupaten Samosir meminta untuk dimasukkan ke sekolah yang berbasis Islam seperti pesantren dan Madrasah Aliyah. Tokoh muslim di Kabupaten Samosir memandang bahwa anak-anak berpotensi besar membawa perubahan ataupun perkembangan dan kemajuan agama Islam di Kabupaten Samosir meskipun dengan jangka waktu yang cukup lama.
Dalam hal inilah para da’i di Kabupaten Samosir terus mengupayakan dan mengoptimalkan segala kemampuan mereka untuk mendidik dan membina khususnya anak-anak. Karena para da’i melihat sebuah peluang untuk perkembangan dan kemajuan gerakan dakwah dan melakukan ekspansi ajaran agama Islam agar Islam terus berkembang di daerah minoritas.
3. Hambatan Dan Solusi Dinamika Dakwah Di Kabupaten Samosir
Dalam berdakwah tidak selamanya berjalan dengan lancar, lika-liku dakwah itu pasti dialami oleh sang juru dakwah dalam melakukan pembinaan maupun pencerahan kepada umat Islam. Terlebih lagi ketika berdakwah di daerah minoritas umat Islam, pastilah sangat besar halangan dan rintangan yang harus dihadapi oleh sang juru dakwah. Juru dakwah atau da’i harus menyiapkan strategi jitunya dalam melakukan tugas yang mulia untuk menyeberluaskan ajaran agama Islam di daerah minoritas, karena yang akan dihadapi sebagian besar adalah pemahaman-pemahaman ajaran agama diluar dari agama Islam dan lain sebagainya. Begitu juga dengan da’i yang menyeberluaskan pemahaman ajaran agama Islam di Kabupaten Samosir memiliki beberapa hambatan yang menjadi tantangan bagi para da’i disana.
Hambatan itu muncul dari segi internal dan eksternal, artinya muncul dari umat muslim itu sendiri dan bisa jadi muncul dari umat non muslim serta bisa juga muncul dari budaya. Hambatan yang terjadi pada dinamika dakwah di Kabupaten Samosir, munculnya dari umat muslim itu sendiri dan kefanatikan terhadap budaya. Umat muslim Kabupaten Samosir minim kesadaran untuk berkeinginan berubah meskipun da’i sudah konsisten dengan selalu memberikan bimbingan dan pembinaan dalam merubah pola kehidupan masyarakat untuk menjadi yang religius.
Hambatan-hambatan tersebut tetap terus dialami oleh da’i dalam berdakwah di daerah minoritas, maka da’i sebagai juru dakwah harus dapat mencari solusi serta mengatasi hambatan-hambatan tersebut agar dinamika dakwah di Kabupaten Samosir mengalami sebuah progres, sehingga pergerakan dakwah tidak lagi berjalan secara lambat dan dapat mengembangkan ajaran agama Islam secara keseluruhan.
Hambatan merupakan suatu masalah yang perlu diselesaikan, maka solusi hadir untuk mengatasi hambatan dinamika dakwah di Kabupaten Samosir adalah da’i yang berada di Kabupaten Samosir bukan hanya sekedar memberikan pemahaman ajaran agama Islam, namun da’i juga dituntut harus bekerja ekstra keras dalam mengembangkan dan mempertahankan serta memiliki sebuah strategi agar dinamika dakwah tidak bergerak secara lambat. Sehingga ajaran agama Islam dapat dengan mudah dikembangkan di Kabupaten Samosir. Da’i harus optimis dalam berdakwah dan berdoa kepada Allah agar semua halangan dan rintangan jalan dakwah dapat dimudahkan oleh Allah.
Berkaca dari realita yang dihadapi oleh para da’i di Kabupaten Samosir, yaitu bagi para orang tua yang tidak melaksanakan shalat di masjid atau tidak menghadiri kegiatan dimasjid dikarenakan mereka sedang sibuk bekerja di ladang dan lain sebagainya padahal sebagian besar letak ladang mereka tidak jauh dari masjid. Maka para da’i bisa mengubah sebagian cara dakwah dengan mengingatkan secara langsung datang ke ladang atau mengunjungi mereka dengan sedikit memberikan nasihat sehingga mereka simpati terhadap keadaan.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian pada bab sebelumnya, peneliti dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Dinamika dakwah di Kabupaten Samosir bergerak secara lambat dan ajaran agama Islam sulit untuk dikembangkan di Kabupaten Samosir. Karena da’i sebagai sang juru dakwah mendapatkan banyak hambatan dalam melakukan penyesuaian kepada masyarakat sekitar, melakukan pembinaan serta pengawasan kepada masyarakat secara ekstra, kemudian da’i dituntut memiliki strategi agar dinamika dakwah di Kabupaten Samosir tidak bergerak secara lambat dan ajaran agama Islam mudah dikembangkan di Kabupaten Samosir.
2. Berdasarkan pandangan tokoh muslim, dinamika dakwah di Kabupaten Samosir bergerak secara lambat dari waktu ke waktu, hadirnya da’i yang ditempatkan di masing-masing masjid di Kabupaten Samosir memiliki dampak positif namun hanya sedikit terlihat perubahan dari dinamika dakwah. Perubahan itu tertuju kepada anak-anak yang senantiasa mengikuti program-program yang dibuat oleh da’i di masjid, dinamika itu dapat terlihat ketika banyak anak-anak di masing-masing desa di Kabupaten Samosir meminta untuk dimasukkan ke sekolah yang berbasis Islam seperti pesantren dan Madrasah Aliyah. Tokoh muslim di Kabupaten Samosir memandang bahwa anak-anak berpotensi besar membawa perubahan ataupun perkembangan dan kemajuan agama Islam di kabupaten Samosir meskipun dengan jangka waktu yang cukup lama. Dalam hal inilah para da’i di Kabupaten Samosir terus mengupayakan dan mengoptimalkan segala kemampuan mereka untuk mendidik dan membina khususnya anak-anak.
3. Hambatan dinamika dakwah terbagi dua, yaitu dari internal dan ekternal. Internal dari dalam yaitu masyarakat muslim itu sendiri yang belum berkeinginan untuk berubah atau minimnya kesadaran untuk mempelajari ajaran agama Islam dan kurang berpartisipasi dalam kegiatan ibadah di masjid, terkecuali ada perayaan hari besar Islam dan momentum-momentum bulan suci Ramadhan. Hal ini disebabkan karena masyarakat muslim di kecamatan Harian kabupaten Samosir sebagian besar bekerja sebagai petani, sehingga mereka lebih mementingkan kegiatan mereka dalam bertani. Hambatan kedua datangnya dari eksternal, yaitu datang dari luar seperti kefanatikan dalam budaya sehingga membuat masyarakat muslim di Kabupaten Samosir lebih mementingkan pesta adat ataupun bentuk kegiatan budaya lainnya sehingga tidak peduli dengan ibadah dan tidak peduli terhadap kegiatan dakwah yang dilakukan oleh da’i. Solusi yang diberikan agar dinamika dakwah di Kabupaten Samosir tidak bergerak secara lambat adalah dengan cara da’i dituntut untuk bekerja keras dalam mengubah pola pikir masyarakat muslim dan menyadarkan bahwa pentingnya mempelajari ilmu keislaman serta mengajak untuk datang beribadah ke masjid dan berpartisipasi dalam kegiatan yang dilakukan oleh da’i. Sehingga jika masyarakat muslim di Kabupaten Samosir sudah memiliki jiwa yang religius maka dengan mudah untuk mengembangkan dakwah di Kabupaten Samosir.
2. Daftar Pustaka
Abdullah. 2012. Dakwah Kultural dan Struktural. Cetakan pertama. Bandung: Citapustaka Media Perintis.
Abdullah. 2015. Ilmu Dakwah. Bandung: Citapustaka Media Perintis.
Amin, Samsul Munir. 2009. Ilmu Dakwah. Cetakan pertama. Jakarta: Amzah.
Aziz, Muhammad Ali. 2009. Ilmu Dakwah. Jakarta: Kencana Prenada Media.
Efendy, Onong Uchjana. 1997. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Cetakan pertama. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Ilaihi Wahyu. 2013. Komunikasi Dakwah. Cetakan kedua. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Kementerian Agama Republik Indonesia. 2013. Alquran dan Terjemahnya. Jakarta:Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran.
Littlejhon, Stephen W dan Foss, Karen A. 2016. Ensiklopedia Teori Komunikasi Jilid Satu. Cetakan pertama. Jakarta: Kencana.
Milles. Matthew B dan Huberman A. Michael. 1992. Analisa Data Kualitatif. Terj. Tjetjep Rohendi Rohidi. Jakarta: UI-Press.
Munir. M. 2015. Metode Dakwah. Cetakan ke empat. Jakarta: Pranada Media Grup.
Partowisastro, Koestoer. 1983. Dinamika Psikologi Sosial. Cetakan Pertama. Jakarta: Erlangga.
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Sahrul, 2014. Filsafat Dakwah. Cetakan pertama. Medan: IAIN Press
Sarina. 2016. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Cetakan pertama. Yogyakarta: Deepublish.
Sentosa, Slamet. 1992. Dinamika Kelompok. Cetakan pertama. Jakarta: Bumi Aksara.
Soepomo. 2010.Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Purhantara.
Sugiono. 2016. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Soiman. 2017. Metodologi Dakwah. Depok: Prenada Media Group.
Sujarwa. 2005.Manusia dan Fenomena Budaya. Cetakan ketiga. Yogyakarta: Universitas Ahmad Dahlan.






